Wah Wah Mengenaskan! Tembok Rusunawa Jatinegara Retak-retak, Atapnya Bocor


FAKTANEWS.NET - Baru setahun ditempati, unit rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Jatinegara Barat mengalami berbagai kerusakan. Beberapa unit retak-retak dan bocor di beberapa tempat, sehingga membuat warga yang merupakan warga gusuran Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur tidak nyaman.

Salah satu unit yang bermasalah adalah milik Denli Nirwana. Unit yang ditempati Denli dan keluarganya berada di Tower A, Lantai 16 unit 14. Saat dida­tangi, unit milik Denli memang cukup memprihatinkan.

Rakyat Merdeka menyambangi unit milik Denli. Dia dan keluarganya menempati unit di lan­tai paling atas. Ukurannya sekitar 30 meter persegi. Saat memasuki unit rusun, penghuni langsung berada di ruang utama. Sebuah wastafel berikut penyangga se­men berukuran 30 cm x 200 cm menyatu dengan dindingterdekat dari pintu masuk.

Ruangan tersebut berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang tamu, sekaligus dapur. Tepat di atasnya, sebuah sprinkler pemadam api terpasang di tengahlangit-langit di antara pipa paralon yang melintang. Lalu, dalam sebuah pintu di balik pintu masuk, terdapat kamar mandi berukuran 1 meter x 2 meter dengan fasilitas shower dan toilet jongkok.

Beberapa bagian unit milik Denli mengalami kerusakan. Di uang utama, sebuah lubang kecil berada di bagian atap. Tembok retak dan bagian atap hanya di­lapisi sealant atau lem silikon.

Kerusakan pun tidak hanya berada di ruangan tersebut. Di beranda bagian belakang, be­berapa lubang pun ada di bagian atas unit. Kerusakan serupa juga berada di salah satu kamar Denli. "Itu kalau hujan airnya masuk," kata Denli.

Denli mengungkapkan kegusaraannya. Pertama, soal air. Kenapa soal air, karena air itu berbahaya. Kadang air bersahabatbaik, tapi ada kalanya malah jadi pembunuh. "Ketika bocor, ron­tok yang terjadi kan? Walaupun ini beton, lama-lama bakal am­bruk. Kalau sudah ambruk, bagaimana? Bahaya," keluh pensiunan Pertamina ini.

Permasalahan selanjutnya, kata Denli, adalah soal listrik. Karena, menurutnya, kalau air sudah mengenai listrik akan membahayakan penghuni. Jadi, tambahnya, kalau ada yang bilangtinggal di rusun ini nyaman, faktanya justru kebalikannya.

Dulu rumahnya di Kampung Pulo seluas 200 meter. Rumah itu dia bangun dengan susah payah dan dalam waktu sekejap rata jadi tanah oleh beckho. "Dapat gantinya hanya rusunawa ini. Kalau saya bilang, ini bukan pengganti, tapi kontrakan," paparnya.

Setelah pensiun, kini untuk menutupi biaya hidup dia berda­gang es kelapa di rusun. Dia ber­pikir, kok seperti ini nasibnya, pensiun kerja dapat rumah kecil dan harus tinggal bertumpuk. Yang seharusnya tinggal nyantai di usia senja.

"Waktu itu setelah digusur bicara dengan istri, kita harus jalankan saja dulu walaupun dengan sangat terpaksa karena tidak ada pilihan," tuturnya.

Hal yang sama juga diutarakan Fauzi, penghuni rusun tower B di lantai 16. Unit rusun yang ditempatinya kerap bocor ketika hujan mengguyur.

"Unit saya juga bocor parah, air rembes dari atas. Bagian atas rusun ini dak beton. Air hujan rembes ke tembok," kata Fauzi.

Fauzi mengatakan, hampir rata-rata unit rusun di lantai 16 mengeluhkan masalah yang sama. Alhasil, penghuni lantai 16 pun merasa tidak nyaman untuk tinggal di unit tersebut.

Baik Denli maupun Fauzi sudah melaporkan kebocoran itu ke pengelola. Namun, perbaikan yang dilakukan tidak maksimal. "Seperti ini, bocor itu cuma dip­lester pakai semen, sedangkan kalau ada lubang pipa yang jadi tempat tetesan air, hanya ditam­bal dengan lem dan itu sama saja bohong," kata Denli.

Fauzi menambahkan, laporan ke pengelola juga sudah disam­paikan. "Tapi jawabannya selalu nanti-nanti saja, ya akhirnya jadi begini kondisi ruangan yang kebocoran, jadi berjamur gini," Fauzi menambahkan.

Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Jatinegara Barat Vita Nurviatin mengatakan, se­jak memulai pengelolaan Januari lalu, sudah banyak keluhan warga mengenai unit. Bocor atau ada bagian-bagian yang rusak.

"Di sini kan yang bangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kita di sini juga ada teknisi yang mem­perbaiki jika ada hal yang perlu diperbaiki, ada juga sekuriti. Teknisi kami bertugas memperbaiki keluhan warga yang ringan-ringan. Jangka waktu dari lapo­ran kerusakan langsung kita perbaiki," kata Vita.

Kerusakan tersebut, kata Vita, seperti toilet mampet, engsel rusak. Teknisi rusun Jatinegara Barat, menurutnya, adalah anak buahnya. Jumlah teknisi di rusun tersebut ada 12 orang.

"Tapi kalau kerusakan yang sifatnya berat, seperti badan bangunan, kita koordinasi dengan Kemenpupera. Mereka datang memperbaiki. Mereka itu men-sealant seperti tembok yang retak," tandasnya. 

Sumber : rmol

Subscribe to receive free email updates: