Tanggapan Dari Singapura Terhadap Penggusuran Bukit Duri


FAKTANEWS.NET - TERNYATA fabel nyata KESAKSIAN LIBI mahakarya Sandyawan Sumardi tentang Penggusuran Bukit Duri memperoleh perhatian bukan hanya dari masyarakat dalam negeri namun juga luar negeri Indonesia

Tidak kurang dari Prof. DR.  Rita Padawangi, mahaguru sosial-politik di National University of Singapore, menyatakan bahwa kisah Kesaksian Libi ditanggapi serius oleh beberapa mahasiswanya. Bahkan Prof. Rita dalam perjalanannya ke Los Angeles untuk memberi kuliah umum di salah satu universitas terkemuka setempat , sempat meminta ijin untuk menggunakan kisah Kesaksian Libi untuk matakuliah sosiologi politik. Prof. Rita juga sempat membagi satu di antara sekian banyak tanggapan dari mahasiswa National University of Singapore sebagai berikut :

Dear Prof Rita, Thank you for the update on Bukit Duri. It is indeed very sad, and sobering – given that we were there not too long ago. In some ways, I think living in Singapore has desensitized me from the sheer violence of such destructions. Growing up and seeing places important to me destroyed, or rationalized by the brute force of the state, was disorienting and painful. I can only imagine it must be much tougher for those in Bukit Duri whose livelihood depends very much on the place itself. I think the tears and cries from the photos speak to that. And I find it quite interesting that for most of us – the cosmopolitan kinds – there isn’t really a place that we really depend on, that we will really cry for when it is destroyed.

Meski tentu mustahil sempurna mengungkapkan maknanya namun saya berusaha mengalih-bahasakan tanggapan mahasiswa NUS tersebut ke bahasa Indonesia, kira-kira sebagai berikut : Prof. Rita yang terhormat, terima kasih atas kisah tentang Bukit Duri. Tentu saja kami sangat sedih dan terharu apalagi kami pernah ke Bukit Duri belum lama berselang. Tampaknya, hidup di Singapura membuat kami merasa kebal percaya bahwa ternyata ada kekerasan yang sedemikian bengis.

Tumbuh-kembang dan menyaksikan tempat-tempat yang bermakna khusus bagi diri kami dihancur-leburkan atau dirasionalisasikan oleh kebengisan kekuasaan negara benar-benar sangat menggalaukan dan menyakitkan sanubari. Kami hanya dapat membayangkan bahwa tentu saja lebih parah lagi derita mereka yang kehidupannya tergantung pada Bukit Duri. Foto-foto tragedi Bukit Duri melukiskan air mata dan jeritan warga. Dan dari Bukit Duri , kami — sebagai warga kosmopolitan ��” memetik pelajaran bahwa pada hakikatnya kami tidak memiliki tempat di mana kami sepenuhnya menggantungkan kehidupan diri kami sehingga kami akan menangis apabila tempat kami dihancur-leburkan.

Tanggapan mahasiswa perguruan tinggi paling terkemuka di Singapura itu perlu disimak dan dihayati oleh para warga dan pemerintah DKI Jakarta yang memuja Singapura sebagai model pembangunan kota Jakarta sehingga mengelu-elukan  penggusuran warga Bukit Duri sebagai prestasi gemilang pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam gigih maju-tak-gentar (termasuk dengan cara melanggar hukum) membangun kota Jakarta agar menjadi tertib, bersih, sehat, aman, sejahtera seperti kota Singapura.

Sumber : rmol

Subscribe to receive free email updates: