Siap-Siap, Eselon II DKI Siap Ungkap Bobroknya Ahok


FAKTANEWS.NET - Forum Birokrat Korban (Fobiak) Ahok terus melakukan konsolidasi jelang Pilkada DKI 2017. Ratusan pegawai negeri sipil (PNS) di Pemprov DKI Jakarta bekas anak buah Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menelanjangi ‎kebobrokan Ahok selama memimpin DKI.‎

Koordinator Fobiak Ahok, Junaedi Nur mengatakan, organisasi tersebut kini semakin intens menggelar pertemuan-pertemuan tertutup sebelum nanti resmi muncul ke publik.

"Kami sedang menyiapkan materi atau bisa dibilang rahasia-rahasia permainan nakal Ahok selama ini. Kami sepakat membentuk forum‎ perlawanan ini. Nantinya, publik akan tahu bahwa anak buah itu tidak pernah salah, yang salah adalah pemimpin. Karena kami hanya menjalankan perintah," kata Junaedi saat ditemui TeropongSenayan di Jakarta Pusat, Kamis (6/10/2016).

"Bisa saya pastikan, sebanyak puluhan eselon II pejabat Pemprov DKI korban arogansi Ahok, mulai dari mantan Wali kota, Kepada Dinas dan Kepala Biro, semua sudah siap 'menguliti' kejahatan Ahok‎," tegas dia.

Namun, kata Junaedi, demi menjaga stabilitas jalannya pemerintahan di lingkungan Pemprov DKI, pihaknya belum akan muncul ke publik sebelum Ahok cuti, pada tanggal 25 Oktober setelah resmi ditetapkan sebagai cagub petahana oleh KPUD DKI.

"Insyaallah, nanti setelah 25 Oktober baru ‎kami akan menggelar jumpa pers," ujar Junaedi.

Diketahui, tak kurang dari 300 PNS DKI memutuskan bergabung atau membentuk Forum Birokrat Korban (Fobiak) Ahok.‎

Forum tersebut merupakan kumpulan para birokrat yang tidak jelas kesalahannya, tetapi diperlakukan semena-mena oleh Ahok.

Dijelaskan Junaedi, selama memimpin Ibu Kota kebijakan Ahok selalu mengutamakan pencitraan seolah-olah ada ketegasan terhadap para birokrat yang telah mengabdi puluhan tahun di Pemprov DKI.

Padahal, kata dia, pencitraan itu hanya sekedar untuk menutupi kebobrokan dan ketidakmapuan Ahok dalam mengelola pemerintahan.

Menurutnya, banyak kepentingan Ahok yang jelas-jelas menguntungkan pihak lain, namun ketika ada persoalan dibelakang hari, selalu anak buah para birokrat yang disalahkan.

"Enak saja, kalau prestasi diklaimnya sebagai kinerja Ahok. Eh, giliran ada skandal kami yang ditunjuk-tunjuk tidak becus lah, maling lah," sesal dia.

"Bahkan ada birokrat yang kemudian dipidanakan. Padahal mereka menjalankan perintah atasan semata karena ketaatan mereka pada pimpinan tertinggi seorang gubernur," beber unaedi.

"Parahnya lagi, kadang kami dituduh melakukan kesalahan yang sudah di opinikan di media. Padahal kami tidak tahu apa-apa. Sehingga mereka mendapat tekanan mental baik dari lingkungan kerja, bahkan lebih prihatin dari lingkungan keluarga," terang Junaedi.

Junaedi menuturkan, sebenarnya banyak sekali birokrat serta pejabat DKI baik yang masih aktif maupun sudah distafkan ingin melawan.

Namun, mereka tidak memiliki keberanian, seperti beberapa pejabat lain yang berani minta mundur dari posisinya.

Sebab bila mereka berani menyampaikan keberatan secara terbuka, maka Ahok dengan segala dukungan medianya akan mem-bully bawahan tersebut seolah melakukan kesalahan besar sehingga opini berpihak pada keuntungan pencitraan diri sang gubernur.

"Untuk itu kami dari Fobiak Ahok, akan melakukan langkah-langkah perlawanan dengan mengungkapkan fakta sebenarnya yang terjadi atas kesalahan dalam pengelolaan pemerintahan yang telah jauh keluar dari etika birokrasi yang diatur oleh UU maupun PP," beber Junaedi.

"Waktu akan membuktikan, fakta akan bicara, maka dari itu kami akan terus mengadvokasi para birokrat yang karirnya dirugikan serta dirinya terzolimi, semoga ikhtiar kecil ini akan membuka mata masyarakat Jakarta dalam memutuskan pemimpin di Pilkada DKI 2017," pungkas Junaedi.

Sumber : teropongsenayan

Subscribe to receive free email updates: