MENGERIKAN!! Inilah Hasil Bedah Visi Misi Ahok - Djarot Oleh @awemany


FAKTANEWS.NET - Ada postingan lewat di timeline saya tentang visi dan misi Ahok-Djarot pada pilkada 2017. Sumbernya adalah ahok.org yang kita tahu merupakan salah satu website yang selama ini mengkampanyekan Ahok.

Visi yang dituliskan oleh Ahok dan timnya ini, dengan jujur menggambarkan apa yang ada dibenaknya.

Dalam dokumen sepenting ini, pilihan bahasa, susunan kalimat dan nuansa yang muncul adalah perwujudan dari fokus atau perhatian sang calon. Bahkan makna-makna yang tersembunyi dalam dokumen itu bisa jadi merupakan pesan yang subtle. Kita harus bedah itu untuk menunjukkan siapa sesungguhnya sang calon.

Mari kita periksa. Dia mau menjadikan Jakarta sebagai etalase. Tertulis secara eksplisit. Jelas ya penggunaan bahasanya.

Menurut KBBI:
etalase/eta·la·se /étalase/tempat memamerkan barang-barang yang dijual (biasanya di bagian depan toko)

"Kita dan apa yang ada di kota ini, bagi Ahok cuma barang pameran. Sesuatu untuk diperagakan. Jadi tuduhan saya tentang pembangunan foto-foto itu valid. Saat dia mewujudkan mimpinya, yang ada pertama dibenaknya adalah membangun kota secara tangible. Bukan membangun manusia."

Dan saya tidak perlu jadi cynic untuk mengatakan etalase itu tidak berorientasi pada barang/orang yg di dalam. Tapi “pembeli”.

Siapapun bisa berakrobat dengan cara apapun, tapi pilihan kata itu memperjelas fokus atensi Ahok. Jangan-jangan bukan pada kota dan isinya.

Mungkin Ahok mau bikin Jakarta jadi etalase untuk memikat orang di luar Jakarta memilih dia jadi presiden. Who knows?

Kemudian, lihat urutan fokusnya. Di situ tertulis, modern, rapi dan manusiawi. Sepenuhnya mendukung pemikiran awal. Membangun kota sebagai bahan untuk dipamerkan.

 Manusiawi itu diletakkan pada urutan terakhir. Kini anda tahu bahwa semua penggusuran yang dilakukan memang tidak dimaksudkan untuk membuat yang digusur sejahtera. Itu omong kosong. Dia hanya mau modern dan tertata rapi. Pajangan.

Ahok tidak secara spontan berfikir tentang kota sebagai tempat kediaman yang harusnya dibuat aman, nyaman dan tertib. Atau kota sebagai tumpuan untuk memajukan dan
mengembangkan warga kota. Karena manusia tidak ada di pusat pikirannya. Modern dan tertata rapi. Etalase.

Penyebutan pembangunan manusianya jelas normatif. Apa itu manusia seutuhnya? Dia tidak merasa perlu untuk mengelaborasi dengan detail. Bagi dia itu tidak penting untuk dijelaskan dalam visi itu.

Akan banyak orang yang menggunakan argumen proposisi dalam matematika untuk menyanggah saya. A dan B itu setara dengan B dan A. Namun sayangnya ini bukan matematika.

Dalam berbahasa ada urutan fokus. Sungguhpun kita mencoba untuk bilang, kita mau semuanya. Dengan demikian penggunaan kata “dan” tidak serta merta berarti setara.

Saat saya bilang si A adalah seorang gadis cantik dan pintar akan berbeda dengan saat orang lain bilang si A pintar dan cantik. Bedanya bukan pada si A. Bedanya ada pada apa yang saya dan orang lain itu pentingkan dalam menilai kelebihan seorang perempuan.

Karenanya memilih urutan menjadi penting dalam visi. Saya tahu Ahok telah mengurutkan sesuai dengan apa yang dia ingin lihat. Pendukung yang merasa prioritas itu tidak tepatlah yang mencoba untuk “meluruskannya”.

Saya tidak paham apa yang dilakukan oleh pendukung serupa itu. Tidakkah mereka sedang menipu dirinya sendiri?

 Yang sangat narsis adalah visinya tentang Jakarta itu melibatkan dirinya. Pilihan kata bersih, transparan dan profesional menunjukkan ego besarnya. Mudah untuk dilihat huruf awal dari 3 kata itu adalah b,t,p atau inisial namanya BTP.

Dia bisa memilih aspek kepemimpinan yang lebih diperlukan untuk Jakarta. Atau yang lebih sesuai dengan management theory. Tidak. Dia lebih suka ada inisial namanya dalam visinya tentang Jakarta.

Baginya kepemimpinan, atau dalam hal ini adalah dia, merupakan bagian yang penting dari visi itu. Narsis to the max.

Saya ingatkan kepemimpinan itu adalah tools untuk mencapai visi. Tidak seharusnya ada dalam visi. Debatable. Namun meletakkan inisial namanya dalam visi itu memang hanya dilakukan oleh seorang megalomania.

Visi seperti ini jelas merupakan titik lemah yang mudah diserang. Kalau cerdas, tim kampanye Anies atau Agus harus menggunakan ini sebagai pembeda nyata. Karena banyak diantara kita yang percaya, membangun kota adalah membangun manusia. Dalam setiap hal yang dilakukan, manusia harus selalu ada di pikiran terdepan. Saya mau pemimpin seperti itu.

Jadi jelas ya siapa Ahok dan apa yang dipikirkannya tentang pembangunan. Saya tidak korting sedikitpun.

Sekarang terserah anda kalo mau jadi barang pameran. Saya sih ogah.

Sumber : ardiwirdamulia

Subscribe to receive free email updates: