Politik Bermodus Teman


FAKTANEWS.NET - Bukan rahasia umum lagi, sejak adanya Pilkada dan Pilpres secara langsung tak hayal  banyak bermunculan Tim-tim Sukses. Adalah sebuah profesi yang menawarkan jasa politik sebagai tim pemenangan si calon dalam Pilkada.

Tim Sukses ini juga mengkaji dan membuat desain langkah-langkah yang akan dilakukan untuk pemenangan. Bukan cerita dongeng berapa teman saya berprofesi dunia itu sampai memiliki pesawat jet karena Gubernur didukungnya menang di suatu daerah. Sekarang coba kita telusuri sebuah tim pemenangan di DKI bernama TEMAN AHOK.

Dengan menampilkan 5 orang anak muda berwajah lugu dan "anak mami" muncul sebagai sebuah gerakan bersifat suka rela yang revolusioner dan progresif untuk mendukung AHOK gubernur DKI pada pilkada 2017 nanti. Benarkah TEMAN AHOK sebuah gerakan murni yang bersifat sukarela?  Alangkah bodohnya orang percaya ini sebuah gerakan murni.

Sederhana cara tolak ukurnya :

1.  5 sosok itu bukan berlatar belakang aktivis yang pernah teruji terjun dalam  dunia gerakan sosial lainnya yang militan, progressif dan revolusioner.  Seperti pernah dikejar aparat,  pernah dipenjara, sebagai narasumber sebuah diskusi, karya-karya tulisannya di media yang menarik perhatian/khas, pernah bergerak dalam dunia sosial (seperti bela buruh, imigran, anak dll) Mereka pun bukan pula orang yang kuat berperan  pada Pilpres 2014 dan Pilkada 2012 kemarin.

Menurut pengakuan TA, Perkumpulan  ini terbentuk ketika melakukan aksi Lawan Begal APBD di Bundaran Hotel Indonesia.

2. Organisasi mereka termasuk baru untuk mampu menyusun kepengurusan dan anggota massa sampai ke tingkat ranting (RW) untuk bergerak secara sukarela menggalang KTP masyarakat kecuali menggunakan massa bayaran dan membuat stand di mall-mall seperti mereka lakukan itu.

Jika ini massa yang diorganisir alias berbayar seperti pekerja EO (Event Organizer) maka dibutuhkan cost politik yang besar. Sebagaimana dilansir oleh Teman Ahok memiliki 400 Relawan dan di 27 Booth, 152 Posko di Jakarta dan 2 Posko Luar Negeri.  Darimana uangnya ?  Meski dibantah olehTA tentang sumber dananya dan biaya yang dipakai dalam mengumpulkan 1.024.630 KTP dalam 330 hari namun tidak logis hitung-hitungannya.

3. Umur 22-25 tahun adalah umur belum cukup untuk melakukan langkah2 revolusioner yang hanya digerakkan berapa orang kecuali dilakukan secara masif oleh kampus-kampus seperti kejadian reformasi '98 yang digerakkan secara bersama bukan beberapa orang.

4. Mereka begitu ramai dan bersisik di dunia sosial dan cenderung menggunakan kata-kata kasar dan menyerang orang  yang berrbeda pandangan dengan mereka. Kekerasan verbal pun bermunculan menyerang pribadi orang yang berbeda pandangan dengan mereka.

5. Perilaku INKONSITENSI Setelah mengklaim berhasil menggalang 1juta KTP malah bersekutu juga dengan partai.  Ini adalah sikap inkonsisten yang sangat haram dalam perjuangan independen yang dibangun mereka. Apalagi sekarang ada #PapaMintaTeman

Kesimpulan :  Dimata saya, mereka itu adalah sekumpulan pemuda berprofesi sebagai  pelacur politik yang menyelusup dalam gerakan pro perubahan memanfaatkan popularitas Jokowi.

Mereka melacurkan diri pada sebuah kekuatan terselubung dari belakang yang mendesain mereka. Kebusukan mereka semakin terbongkar ketika mereka bersikap tidak KONSISTEN. Katanya ANTI PARTAI ternyata mereka merangkul partai juga.

Waduh ... Jika KONSISTENSI bukan dianggap sebuah prinsip yang dipegang teguh dalam mengukur kemurnian perjuangan maka celakalah negeri itu Wadawv ....!

Alangkah ruginya saya dulu. Kalau saya dulu  mau melacurkan diri, mungkin saya sudah jadi orang top dan kaya raya. Cuma untuk Sholat Jumat saja  beberapa orang aktivis '98 dengan Soeharto pada tahun 1999, saya ditawarkan oleh Mr. P membuka showroom di Pondok Indah.

Tetapi , lebih baik saya miskin daripada menjilat ludah saya sendiri Karena KONSISTEN adalah sebuah nilai tertinggi bagi seorang pejuang  #SelamatNgeburit #Ngeyel #Bully #Jerit-jerit

Sumber : kompasiana

Subscribe to receive free email updates: