Ribka Tjiptaning yang Tak Pernah Malu Jadi Anak PKI Malah Bangga


FAKTANEWS.NET - Ribka Tjiptaning mungkin segelintir anak anggota Partai Komunis Indonesia yang berani bicara secara blak-blakan, bahkan mengaku bangga. Bukan cuma terbuka dalam berbagai kesempatan, wanita yang akrab disapa Ning ini juga sempat menulis buku "Aku Bangga jadi Anak PKI". Langkah yang sering disebut gila oleh para teman-temannya sesama anak korban Gerakan 30 September (G30S).

Menurut Ning, tak ada yang patut ditutup-tutupi soal dirinya. Dua orang tuanya memang sosok yang sangat pantas untuk dibanggakan. "Bapak itu figur yang baik, prinsip hidupnya di dunia ini hanya ada dua ajaran yakni baik dan buruk sehingga tak ada perbedaan kelas," kata Ning saat ditemui CNN Indonesia di ruang kerjanya di Kompleks DPR. Sementara sang ibu menurut Ning selalu mengajarkan cinta kasih.

Ning dilahirkan di tengah keluarga mapan. Maklum, ayahnya Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro memiliki sebuah pabrik paku di Solo. "Di Solo sampai sekarang masih banyak yang tahu bapakku," ujar Ning.

Di PKI, Suripto memang tak masuk dalam jabatan struktural. Setahu Ning, bapaknya itu salah satu anggota biro khusus PKI. Meski bukan pentolan PKI, tak sembarangan orang bisa bertemu dengannya.

Hanya beberapa gelintir orang di PKI dan organisasi di bawahnya yang bisa menghadap ayah Ning kala itu.

Peristiwa G30S yang dilanjutkan dengan penangkapan orang-orang PKI membuat Suripto harus meningalkan empat anak dan isteri yang tengah hamil. Usahanya otomatis mandek saat itu. Hingga kini, kata Ning, gedung bekas pabrik paku bapaknnya masih mangkrak di Solo.

Perjalanan keluarga Ning selanjutnya menjadi tak menentu. Bersama ibu dan tiga saudaranya, Ning berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ini Ning mengaku mengalami beragam pengalaman pahit. Beragam pekerjaan ia tekuni, bukan cuma untuk bertahan hidup, tapi juga untuk membiayai sekolahnya.

Dengan susah payah, setelah melewati 12 tahun masa studi, Ning berhasil meraih gelar dokter dari Universitas Kristen Indonesia. Ning juga aktif di Partai Demokrasi Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. "Saya bahkan lebih dulu masuk PDI dibandingkan Mbak Mega (Megawati)," kata Ning.

PDI pecah, Ning memilih masuk kubu Megawati hingga sekarang dia terpilih menjadi anggota DPR RI. Ini adalah periode keduanya di parlemen.

Di sela-sela kesibukannya itulah Ning menulis buku Aku Bangga Menjadi Anak PKI. Menurut Ning, buku itu semacam otobiografi dirinya yang merasakan getirnya hidup keluarga korban G30S. "Saat kejadian aku umur 6 tahun, masih terekam peristiwa masa lalu itu," kata Ning.

Salah satu pengalaman buruk yang masih ia ingat sampai sekarang adalah, bagaimana ia dan kakaknya dipaksa melihat langsung sang bapak disiksa.
Saat itu bapak Ning diinterogasi tentara di sebuah rumah di Gang Buntu, Kebayoran Lama. Rumah tersebut saat itu memang dikenal sebagai rumah penyiksaan anggota PKI.

"Aku lihat bapak digantung terbalik, badan penuh luka, dari hidung dan telinga keluar darah," kata Ning sambil bergidik. Karena itu, tambah Ning, tak ada alasan untuk membuat dirinya tak bangga pada bapaknya yang seorang PKI.

PKI menurutnya adalah partai besar yang turut mewarnai bangsa ini. Bahkan, jika saja mau jujur, di Gedung DPR ini seharusnya dipajang partai-partai yang pernah duduk di DPR, PKI salah satunya.

Ning mengaku akan terus terbuka soal jati dirinya sebagai anak PKI. Cemoohan bahkan tindakan diskriminatif sudah biasa ia rasakan sejak masa sekolah dulu. Ia bahkan cuma bisa tertawa saat disebut sebagai anggota PKI juga atau menyebarkan paham PKI.

Menurutnya, untuk menjadi anggota PKI seperti bapaknya saat partai itu masih ada, bukan perkara mudah. Ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui. "Sampai ke taraf itu (anggota PKI) sulit," kata Ning.

Ditanya soal ideologi yang dianutnya, Ning tegas menjawab "Pancasila Bung Karno 1 juni 1965," katanya.

Sumber : cnnindonesia

Subscribe to receive free email updates: